Showing posts with label Life Story. Show all posts
Showing posts with label Life Story. Show all posts

Thursday, January 1, 2009

Kasih Bagi Pembunuh Anakku

Handoko Trenggono, seorang ayah yang amat mengasihi anak-anaknya tidak menyangka akan mendengar kabar menggemparkan yang terjadi pada diri putri bungsunya, Happy.
Pada saat itu memang saya ada di rumah, lagi nonton tv. Terus ada yang menelpon yang memberitahu bahwa Happy anak saya mengalami kecelakaan terus sekarang ada di rumah sakit Green Garden. Saat tiba di lokasi kejadian, Handoko menemukan putrinya Happy terbujur di mobil Teddy, teman pria Happy yang mengajaknya menonton malam itu. Malam itu juga Happy dilarikan ke rumah sakit. Saya langsung bawa ke rumah sakit Graha Medika. Dari situ saya turunkan, tapi ternyata Happy telah tiada.

Happy Trinita, putri bungsu bapak Handoko ini baru berusia 18 tahun ketika maut menjemputnya. Sosoknya yang lincah dan periang membuatnya disukai oleh keluarga dan teman-temannya. Namun sayang di usianya yang belia, Happy tewas secara mengenaskan oleh teman dekatnya sendiri yang telah dikenalnya sejak kecil. Dengan alasan hendak mengajak nonton, diam-diam Teddy telah merencanakan untuk memperkosa Happy begitu orang suruhannya berhasil membius Happy dengan berpura-pura menjadi perampok. Namun diluar dugaan zat cloroform yang dipakai untuk membius membuat korban tewas seketika itu juga.

Inge Trenggono, ibu Happy mengenang kejadian itu. Saya sedang berada di Medan saat itu, saya tidak berada di Jakarta. Saya sudah ada di Medan selama dua minggu. Pada tangggal 25 April saya mendapat telepon jam 11 malam dari adik saya. Dia menanyakan kapan saya pulang. Saya tanya kenapa?, tapi dia mengatakan tidak ada apa-apa, hanya Happy sakit dan diopname. Saya gelisah, saya merasa ada sesuatu terjadi dengan anak saya. Saya hanya bisa menangis, berlutut dan berdoa. Saya katakan : "Tuhan, saat ini saya ada dalam keadaan gelisah. Saya mohon petunjuk, apa yang terjadi di rumah?, apa yang terjadi dengan Happy?". Saya begitu kaget dan tertegun bahwa Tuhan menunjukkan satu peti jenazah putih dan ada foto anak saya di depannya.

Satu yang saya minta Tuhan, apabila penglihatan yang saya lihat tadi benar, beri kekuatan kepada saya. Tuhan berikan kekuatan kepada keluarga saya. Setibanya di Jakarta, Inge seperti sedang bermimpi di siang bolong. Saya melihat anak saya terbujur benar-benar di peti jenazah putih dengan foto di depannya. Semua mengira pasti saya datang menangis dan terguling-guling, tapi air mata saya telah habis pada saat di Medan dan di pesawat, mengalir terus air mata. Begitu saya melangkah ke Jakarta Tuhan menggenapi janjinya dan menguatkan saya. Kepergian Happy menjadi pukulan berat bagi keluarga Handoko. Teddy dan dua temannya berhasil diamankan dan diancam hukuman penjara. Keluarga Teddy mencoba dengan jalan damai. Beberapa kali keluarga Teddy mencoba mendatangi orang tua Happy untuk meminta maaf, namun selalu gagal.

Handoko tidak dapat menerima permohonan maaf ini.Mereka bilang inilah mungkin jalan terbaik. Tapi saya sendiri katakan : "Bagaimana mungkin hal ini bisa dibilang yang terbaik. Anak saya meninggal dibunuh kok bisa dibilang yang terbaik?". Jadi saya tidak bisa habis pikir. Demikian juga dengan ibu Inge. Teman-teman saya katakan : "Kamu harus berdoa dong untuk Teddy supaya kamu bisa mengampuninya". Saya bilang memang enak mengatakannya. Tapi untuk saya sungguh-sungguh bisa berlutut, memohon dan berdoa sulit sekali, apalagi untuk mengampuni Teddy. Hampir setiap malam saya sulit tidur, seperti melihat televisi kehidupan anak saya setiap hari.
Sepeninggal putrinya, hari-hari Handoko dan Inge tidak sama lagi. Mereka mengalami depresi yang luar biasa.

Inge kini hanya merasakan kepahitan. Di rumah setiap ada masalah sedikit, suami saya langsung marah besar. Rasanya seperti hidup di dalam neraka. Enam bulan berada dalam tekanan, atas saran putranya, Inge akhirnya membuat keputusan yaitu melepaskan pengampunan untuk pembunuh putrinya. Saya katakan pada suami : "Pak mungkin ini saatnya kita harus mengampuni. Mungkin saat ini kita jadi keluarga yang kacau tanpa damai sejahtera karena kita belum bisa mengampuni dia. Kenapa setiap malam kita doa tapi Tuhan tidak jawab, hati kita juga selalu tidak damai sejak anak kita pergi."
Keputusan Handoko dan Inge ternyata masih harus diuji.

Tuhan itu mau menguji saya apakah saya benar-benar waktu saya ngomong mengampuni itu dari mulut saja atau dari hati. Sekarang orang tua tersangka membawa anaknya ke depan mata saya. Dia datang dan saya suruh masuk. Begitu dia masuk kaki saya sampai gemetar, saya tidak bisa jalan. Tapi begitu pembunuh anak saya datang, ia saya peluk. Kuasa Tuhan turun sehingga saya betul-betul bisa mengampuni. Dia saya peluk, saya menangis. Inilah luar biasanya Tuhan. Nah setelah itulah saya merasa plong. Saya merasa tidak ada beban lagi. Demikian juga dengan Inge.

Tuhan menolong saya menempatkan Teddy sebagai anak saya pada saat itu. Kita mengampuni Teddy bukan saja kita memulihkan orang lain, tapi kita juga memulihkan diri kita sendiri. Karena saya mengampuni orang yang membunuh anak saya, batin saya juga Tuhan pulihkan Teddy dan kedua temannya akhirnya dibebaskan dari tuntutan. Sejak itu hari-hari berkabung keluarga Handoko beralih menjadi hari-hari yang penuh pengharapan. Inge Trenggono hanya bisa menyadari bahwa damai sejahtera akibat kuasa pengampunan ini hanya bisa didapat melalui tekadnya menjadi pelaku firman. Kami hanya belajar menjadi pelaku firman saja. Saya bawa hal ini dalam doa. Di doa Bapa kami di katakan : "Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami". Itu yang menggelitik saya untuk mengambil sikap mengampuni. Setiap malam saya berdoa kalau Tuhan mengijinkan hal ini terjadi dalam keluarga kami, saya minta Tuhan memberikan damai sejahtera, kekuatan dan sukacita. Dan Tuhan menggenapi.

Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." [Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.] (Markus 11:25-26)

Thursday, November 6, 2008

Semangka

Ada seorang pelayan yang mengabdi kepada tuannya dengan segenap hati, bekerja dengan giat dan selalu menyenangkan hati tuannya.. Tuannya sangat sayang pada sang pelayan. dia ingin menguji sekaligus memberikan hadiah kepada pelayan setia itu dengan barang-barang berharga seperti emas dan intan, tetapi dimasukkan dalam buah semangka...,

Tuannya berkata, hai pelayan yang setia karena jerih payahmu aku berikan engkau hadiah sebuah semangka.... sang pelayan yang tidak tahu bahwa didalam semangka itu terdapat emas dan intan menjadi sangat kecewa.. dia merasa diperlakukan semena-mena oleh tuannya, jerih payahnya tidak dihargai...

Dia pulang dengan wajah sedih dan bersungut-sungut dan menyesal... mengapa saya harus bekerja giat kalau hanya mendapatkan bayaran semangka... dalam kesedihan dan perjalanan pulang kerumah .. maka DIA BERFIKIR DARI PADA HANYA MEMBAWA SEBUAH SEMANGKA LEBIH BAIK KUTUKAR DENGAN NASI SATU BUNGKUS DAN TEH SATU GELAS .. ( Mungkin mau buka puasa kali..)

DAN AKHIRNYA DIA TIDAK PERNAH MENDAPATKAN APA-APA SELAIN KEKECEWAAN, BERSUNGUT-SUNGUT DAN KEMARAHAN..Justru orang yang tidak tahu ( penjual nasi) mendapatkan rejeki nomplok karena semangka tersebut berisi emas dan intan...
Sahabat,

Kadang kita merasa bahwa kita sudah memberikan yang terbaik dalam tugas dan tanggungjawab kita.. tetapi apa yang kita dapatkan sepertinya tidak sesuai dengan jerih lelah kita.. bahkan mendapat masalah.. tapi tunggu dulu !!! jangan jangan TUHAN SEDANG MEMBUNGKUS HADIAH ITU dengan kertas kado yang namanya masalah dan tekanan.....sebenarnya kita tinggal selangkah lagi mendapatkan hadiah itu.. tetapi kita keburu menyerah dan menukarnya dengan hal-hal yang tidak berarti.....( bersungut-sungut, putus asa, bila lebih parah lagi bisa menyalahkan orang disekitar kita.. bahkan TUHAN...)
Jadi kalau anda mendapatkan KADO yang tidak menyenangkan ingatlah... jangan-jangan dibalik itu ada intan dan berlian...!!! atau anda kecewa selamanya.../Mail

Selamat menikmati hari-harimu ....
Selamat Membuka Kado .....
Semoga hari ini menyenangkan...
GBU

Saturday, October 25, 2008

Kisah cinta dari cina

Satu kisah cinta baru-baru ini keluar dari China dan langsung menyentuh seisi dunia. Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita yang lebih tua, yang melarikan diri untuk hidup bersama dan saling mengasihi dalam kedamaian selama setengah abad.



Laki-laki China berusia 70 tahun yang telah memahat 6000 anak tangga dengan tangannya (hand carved) untuk isterinya yang berusia 80 tahun itu meninggal dunia di dalam goa yang selama 50 tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya. 50 tahun yang lalu, Liu Guojiang, pemuda 19 tahun, jatuh cinta pada seorang janda 29 tahun bernama Xu Chaoqin ....



Seperti pada kisah Romeo dan Juliet karangan Shakespeare, teman-teman dan kerabat mereka mencela hubungan mereka karena perbedaan usia di antara mereka dan kenyataan bahwa Xu sudah punya beberapa anak....



Pada waktu itu tidak bisa diterima dan dianggap tidak bermoral bila seorang pemuda mencintai wanita yang lebih tua.....Untuk menghindari gossip murahaan dan celaan dari lingkungannya, pasangan ini memutuskan untuk melarikan diri dan tinggal di sebuah goa di Desa Jiangjin, di sebelah selatan Chong Qing.



Pada mulanya kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak punya apa-apa, tidak ada listrik atau pun makanan. Mereka harus makan rumput-rumputan dan akar-akaran yang mereka temukan di gunung itu. Dan Liu membuat sebuah lampu minyak tanah untuk menerangi hidup mereka.

Xu selalu merasa bahwa ia telah mengikat Liu dan is berulang-kali bertanya,"Apakah kau menyesal?" Liu selalu menjawab, "Selama kita rajin, kehidupan ini akan menjadi lebih baik".

Setelah 2 tahun mereka tinggal di gunung itu, Liu mulai memahat anak-anak tangga agar isterimya dapat turun gunung dengan mudah. Dan ini berlangsung terus selama 50 tahun.

Setengah abad kemudian, di tahun 2001, sekelompok pengembara (adventurers) melakukan explorasi ke hutan itu. Mereka terheran-heran menemukan pasangan usia lanjut itu dan juga 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu.

Liu Ming Sheng, satu dari 7 orang anak mereka mengatakan, "Orang tuaku sangat saling mengasihi, mereka hidup menyendiri selama lebih dari 50 tahun dan tak pernah berpisah sehari pun. Selama itu ayah telah memahat 6000 anak tangga itu untuk menyukakan hati ibuku, walau pun ia tidak terlalu sering turun gunung.



Pasangan ini hidup dalam damai selama lebih dari 50 tahun. Suatu hari Liu yang sudah berusia 72 tahun pingsan ketika pulang dari ladangnya. Xu duduk dan berdoa bersama suaminya sampai Liu akhirnya meninggal dalam pelukannya. Karena sangat mencintai isterinya, genggaman Liu sangat sukar dilepaskan dari tangan Xu, isterinya.



"Kau telah berjanji akan memeliharakanku dan akan terus bersamaku sampai akan meninggal, sekarang kau telah mendahuluikun, bagaimana akan dapat hidup tanpamu?"

Selama beberapa hari Xu terus-menerus mengulangi kalimat ini sambil meraba peti jenasah suaminya dan dengan air mata yang membasahi pipinya.

Pada tahun 2006 kisah ini menjadi salah satu dari 10 kisah cinta yang terkenal di China, yang dikumpulkan oleh majalah Chinese Women Weekly.

Pemerintah telah memutuskan untuk melestarikan "anak tangga cinta" itu, dan tempat kediaman mereka telah dijadikan musium agar kisah cinta ini dapat hidup terus.


./Serbaguna.wordpress.com

Thursday, September 4, 2008

Cerita Kehidupan setelah menikah

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal! Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.

Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati.

Jantungku serasa mau berhenti…

23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui…

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly..

4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil.

14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah..

15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.

Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun… “Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun…” (ts)

—————————-

Jika manusia bisa mencintai pasangannya tanpa syarat. Bayangkan, bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada kita yang adalah ciptaanNya… anakNya… sahabatNya… saudaraNya… sehingga Ia memberikan AnakNya yang kekasih untuk mati di kayu salib bagi kita.

BKM - Buletin Komunitas Mudika Edisi Oktober 2008

Have a blessed day!

Yoh 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”