Showing posts with label Entrepreneurship. Show all posts
Showing posts with label Entrepreneurship. Show all posts

Sunday, December 21, 2008

Are You Afraid of Losing Your Job?

There are people today who are worried about losing their job. With the daily news of downsizing and company failures, many people are becoming afraid that they could become unemployed.

Recently, I have talked to a number of people who have lost their jobs. I have also been talking to people who are afraid of getting fired. There is something that I have shared with both groups.

Someone can take away your job or your current income. While that is certainly something that is very unpleasant, that is all that they can take away from you. They cannot take away who you are or what you can do.

Whenever you leave a job, either by your choice, or the company's choice, you take with you everything that you are and everything that you have. You take all of your experience with you. You take all of the skills and abilities that you have developed. Your discipline and work ethic come with you as well.

No one can ever take any of those things away from you.

For those who have been laid off, that is very important to remember. Being let go for no fault of your own can be hurtful. I know some who are bitter and angry. However, dwelling on the hurt and the emotions does not help one to seek out and find employment. Rather, the focus needs to be on what one has to offer.

That is something that those who are employed also need to remember too. If the day comes when you are let go, you still take with you all that you are and all that you can do.

Other points for anyone tempted to be afraid of losing their job include focusing on what you can control, knowing how to make the company money and expanding your skills at work.

First, remember that there are things that you can control and things you cannot control. Some decisions may be made in a corporate office hundreds of miles away. Some of these things you have no input in and no control over.

Focus on that which you can control. You can control your attitude. You can control the quality of your own individual work and make it the best that it can possibly be. You can, and you should, strive for excellence.

It's sad, but true that many workers have developed a slacker's work ethic. They do just enough to get by. They should have been developing a work ethic that is now needed and in demand.

Secondly, remember that the reason for being hired is to make money for the company. How few recognize that! If they really understood that, it would greatly influence their work ethic.

Thirdly, don't only strive for excellence in what you do; also look for ways to expand your skills. Learn things about other departments. Ask questions, get involved, and, volunteer to help someone else with their job.

Finally, being afraid will shackle you. Fear always keeps someone from freely moving forward. Working with fear will affect your productivity. You will not be able to work peacefully and accomplish all that you really could accomplish without fear.

I can remember specifically on two occasions when I was afraid of being fired. One situation was in the mid 70's and they were downsizing. The fear of getting fired was affecting my work, and I knew it.

The other time was in the early 90's. I was working for a small company and I just knew something was going on. Again, the fear of loosing my job was beginning to affect my performance. Thankfully in both cases, I was able to secure other employment. And, I took all my work ethic, skills and strengths with me.

As long as you are doing the very best that you can, it serves you no purpose to be afraid or worry that you might get fired. That only adds stress and affects your performance. If you think about it, with so much downsizing, in many workplaces, one person now does the work that two or three people did previously. You just cannot afford to have anything affect your performance.

So, refuse to live with fear. Refuse to go to work with fear. Tell fear to take a hike and then pour your heart and soul into what you are doing. Do your very best! Never comprise on a good work ethic. Remember, if you leave, you're taking your work ethic with you.

In the meantime, continue to grow and develop yourself, either in the field you are in, or in some other field. Make yourself more valuable this year than you were last year. Know that you are someone who has a lot to offer, wherever you are employed./articlesbase

Monday, October 20, 2008

Karakter Seorang Wirausaha

Waktu kelas 4 SD, setiap pulang sekolah karyawan ayah saya menjemput saya dengan menggunakan DKW (Sepeda motor dibawah 50 cc). Pada suatu hari kami mampir beli es campur dekat rumah. Cuaca yang panas terik pagi itu sangat mendung untuk minum es campur dengan cepat. Meskipun saya dibayarin untuk jatah satu gelas, saya mulai berpikir bagaimana supaya dapat jatah lebih namun legal dan tidak berbohong. "Pak!" panggilan saya kepada bapak tukang es. "Es saya terlalu manis pak, boleh minta tolong diberi air dengannya (air kelapa muda) dikit lagi, "tanya saya yang sudah hampir separoh gelas saya minum.

Dan memang ditambahi air dengannya sampai gelas saya penuh lagi. "Terima kasih pak" kata saya, segera saya minum kembali. Dengan menggerutkan dahi dalam hati saya berkata "sekarang kurang manis." Trik dagang orang tua saya langsung menyodok: "wah bapak terlalu banyak memberi airnya hingga manisnya hilang." Sang bapak menambah sirup dengan senyum dan saya menerima dengan senyuman juga. Cerita diatas bukan untuk mengajari saudara-saudari "nakal", namun mengerti karakter enterpreneurship. Seperti tertulis dikejadian 25:31, tetapi kata yakub: "juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu." Roh yakun ngerti sekali apa yang diperlukan bagi dirinya. Lalu apa bedanya cerita diatas dengan yakub? kesamaannya sudah jelas yaitu jual menjual (Enterpreneurship). Perbedaannya yaitu roh Yakub mengerti sekali apa yang diperlukan. Roh dan cerita awal diatas hanya mengerti untuk memenuhi raga saja. Dari kedua cerita diatas yang perlu kita ambil hikmah karakternya adalah:

1. Jangan beli 'ikan'nya. Maksud 'ikan' disini adalah raih kebutuhan roh, jangan keinginan daging
2. Beli 'pancing'nya. Jangan anggap remeh 'pancing' yang diberikan pada kita dan tidak bisa memenuhi kebutuhan saat ini, namun pergunakanlah sebagai 'alat' (Soft Skills) yang bisa untuk mencari kebutuhan terus-menerus.
3. Last but not least, enterpreneurship jangan diserap dikedangkalan, tapi seraplah enterpreneurship dalam orang mencari "harta karun" didasar laut./Daud Tjondrorahardja [Warta Jemaat GKKD Djogja]

Entrepreneur in Action

Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, Tuhan tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperolah seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil hagar, hambanya, orang Mesir itu,-- yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan --, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Abram menghampiri Hagar , lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: “Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; Tuhan kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau.” Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu dibawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kau pandang baik.” Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Lalu Malaikat Tuhan menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. Katanya: Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan kemanakah pergimu?” Jawabnya: “Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku.” Lalu kata Malaikat Tuhan itu kepadanya: “Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya.

Kejadian 16: 2-9

Baru-baru ini kami diberkati liburan ke hongkong. Perjalanan menggunakan persawat udara membutuhkan waktu kurang lebih lima jam. Bagi anak kami yang paling kecil (dua tahun) merupakan suatu siksaan karena kebebasannya merasa di batasi. Kami mengajari tata cara yang harus dijalankan di dalam pesawat meskipun anak kami tetap meronta-ronta.
Sebuah keluarga yang duduk dekat kami mempunyai anak yang usianya hampir sama dengan anak kami. Ibunya menceritakan kalau masuk kedalam pesawat, anaknya diberi “benadryl” supaya langsung tidur dan bangun sudah sampai di tujuan dengan badan yang segar. Masih sempat terheran-heran dengan pernyataan ibu yang memasukkan ‘racun’ dalam tubuh sang anak dan bisa ‘segar’, sang ibu sudah berkata lagi: “Kalau seandainya dia bangun, saya sudah siapin mini laptop khusus untuk putar film anak.” Saya Cuma tersenyum dan menjadi pendengar yang baik.

Selanjutnya dari dua kisah penanganan anak yang berbeda ini, saya mebandingkannya dengan anak yang belajar entrepreneur dari orang tuanya yang mempunyai perusahaan sendiri. Ada orang tua yang mengijinkan dan “agak” memaksa anaknya untuk mempelajari perusahaan orang tuanya dengan mulai dari nol (level paling bawah), tidak peduli banyaknya dan tingginya gelar akademik. Namun ada juga orang tua yang mengijinkan anaknya untuk langsung duduk di kursi manajer tanpa harus susah-susah melewatinya karena ini adalah putra mahkota dan gelarnya dari luar negeri.

Marilah kit abaca Kejadian 16: 2-9, disini kita bisa belajar bahwa berwirausaha itu:
1. Tidak ada yang instant. Cari janji Tuhan buat Anda, jangan buat keputusan sendiri dengan mencari jalan pintas (Kej 16: 2-3)
2. Tabut Tuai. Sepertinya suatu penghinaan apabila ditaruh di level paling bawah, namun justru di level paling bawah ini kita banyak belajar kerendahan hati dan arti hidup dari kasih karunia serta anugerah Tuhan (Kej 16:5)
3. Harus diproses. “Biarlah engkau ditindas” (Kej 16:9). Ini adalah kalimat pasif. Biarlah hidup Anda dibentuk, sakit, seolah-olah tidak punya wibawa, dan sepertinya keset. Kelihatannya Tuhan tidak mendengar, namun nantinya berkat yang Anda peroleh akan Luar Biasa.

Seandainya hagar itu menurut, putranya pasti akan berbeda dengan apa yang sudah dit
ulis di Alkitab. Maukah para entrepreneur menjalankan actionnya?/Ev. Daud Tjondrorahardja